Rabu, 23 November 2016

Artikel mengenai Gizi Masyarakat

Pengantar Gizi Masyarakat

Pengertian Gizi secaa umum adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.citrus-ambrosia-salad-fb
Tidak ada satu pun jenis makanan yang mengandung semua zat gizi, yang mampu membuat seseorang untuk hidup sehat, tumbuh kembang dan produktif. Oleh karena itu, setiap orang perlu mengkonsumsi anekaragam makanan; kecuali bayi umur 0-4 bulan yang cukup mengkonsumsi Air Susu Ibu (ASI) saja. Bagi bayi 0-4 bulan, ASI adalah satu-satunya makanan tunggal yang penting dalam proses tumbuh kembang dirinya secara wajar dan sehat.
Makan makanan yang beranekaragam sangat bermanfaat bagi kesehatan. Makanan yang beraneka ragam yaitu makanan yang mengandung unsur-unsur zat gizi yang diperlukan tubuh baik kualitas maupun kuantintasnya, dalam pelajaran ilmu gizi biasa disebut triguna makanan yaitu, makanan yang mengandung zat tenaga, pembangun dan zat pengatur. Apabila terjadi kekurangan atas kelengkapan salah satu zat gizi tertentu pada satu jenis makanan, akan dilengkapi oleh zat gizi serupa dari makanan yang lain. Jadi makan makanan yang beraneka ragam akan menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.
Makanan sumber zat tenaga antara lain: beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar, kentang, sagu, roti dan mi. Minyak, margarin dan santan yang mengandung lemak juga dapat menghasilkan tenaga. Makanan sumber zat tenaga menunjang aktivitas sehari-hari.
Makanan sumber zat pembangun yang berasal dari bahan makanan nabati adalah kacang-kacangan, tempe, tahu. Sedangkan yang berasal dari hewan adalah telur, ikan, ayam, daging, susu serta hasil olahan, seperti keju. Zat pembangun berperan sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan seseorang.
Makanan sumber zat pengatur adalah semua sayur-sayuran dan buah-buahan. Makanan ini mengandung berbagai vitamin dan mineral, yang berperan untuk melancarkan bekerjanya fungsi organ-organ tubuh.

Artikel Resiko Obesitas Bagi Kesehatan

Resiko Komplikasi Penyakit Karena Obesitas

Menurut WHO kemajuan teknologi membuat manusia dipenuhi dengan berbagai kemudahan sehingga kurang melakukan aktivitas fisik dan cenderung mengkonsumsi makanan tinggi energi dan lemak. Dampak yang paling terasa dari kondisi ini adalah terjadinya obesitas dengan segala resiko kesehatnnya. Risiko obesitas bagi kesehatan memang sangat besar oleh karena itu menurut  WHO, obesitas merupakan epidemi global yang harus segera diatasi. Obesitas meningkatkan resiko kematian untuk semua penyebab kematian.
Salah satu penyebab terjadinya obesitas menyebutkan, bahwa obesitas terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara energi yang masuk dengan energi yang keluar. Banyaknya asupan energi dari konsumsi makanan yang dicerna melebihi energi yang digunakan untuk metabolisme dan aktivitas fisik sehari-hari. Kelebihan energi ini akan disimpan dalam bentuk lemak pada jaringan lemak.
Menurut hukum termodinamik, obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara asupan energi dan keluaran energi (energy expenditure) sehingga terjadi kelebihan energi yang selanjutnya disimpan dalam bentuk jaringan lemak dalam jangka waktu yang lama Kelebihan energi tersebut dapat disebabkan oleh asupan energi yang tinggi atau keluaran energi yang rendah.
Obesitas merupakan masalah yang rumit, dan untuk mengerti penyebabnya dibutuhkan tinjauan kasus demi kasus. Manifestasi klinis dan komplikasi yang sering ditemukan pada obesitas antara lain hipertensi, penyakit arteri koroner, kegagalan jantung, infeksi saluran napas, diabetes mellitus, osteoarthritis, dan sebagainya.  Hubungan antara angka kejadian hipertensi dan berat badan meningkat tajam sesuai peningkatan berat badan.
Salah satu penyebab jantung koroner adalah kebiasaan makanan berlemak tinggi terutama lemak jenuh. Semakin banyak konsumsi lemak, berarti semakin meningkat kadar kolesterol dalam darah. Dari hasil penelitian para ilmuwan dari National Heart, Lung and Blood Institut di Bethesda, Maryland, Amerika dikatakan bahwa setiap penurunan 1% kolesterol dalam darah akan menurunkan risiko serangan jantung koroner sebesar 2%.
Resiko penyakit kardiovaskuler, yang ditandai dengan peningkatan insulin, trigliserida, LDL-kolesterol dan tekanan darah sistolik serta penurunan kadar HDL- kolesterol, resiko diabetes tipe 2, serta gangguan ortopedik, yang disebabkan kelebihan berat badan.
Penyakit diabetes mellituss (DM) terjadi karena hormon insulin yang diproduksi oleh pankreas tidak memadai lagi jumlahnya untuk proses metabolisme karbohid rat secara normal. Akibatnya, sebagian besar glukosa yang dikonsumsi tidak dapat diubah menjadi glikogen, sehingga gula darah bertambah tinggi (hiperglikemia). Sedangkan sebagian dari kelebihan glukosa dalam darah tersebut akan dibuang melalui urin (glikosuria) Gejala gejala yang dirasakan penderita penyakit ini adalah sering merasa haus dan cepat lelah yang disertai penurunan berat badan meskipun nafsu makan tidak berubah. Hasil penelitian epidemiologi, menunjukkan adanya kaitan antara konsumsi serat makanan dengan penyakit diabetes mellitus.

Public Health Definition

Public Health Definition

Public health is “the science and art of preventing disease, prolonging life and promoting health through the organised efforts and informed choices of society, organisations, public and private, communities and individuals.”
Public health is typically divided into epidemiology, biostatistics and health services.Environmental, social, behavioral, and occupational health are also important subfields. The focus of public health intervention is to prevent rather than treat a disease through surveillance of cases and the promotion of healthy behaviors.
The goal of public health is to improve lives through the prevention and treatment of disease. The United Nations’ World Health Organization defines health as “a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity.”
History of public health have started at Early public health interventions.The science of epidemiology was founded by John Snow‘s identification of a polluted public water well as the source of an 1854cholera outbreak in London. Dr. Snow believed in the germ theory of disease as opposed to the prevailing miasma theory. Although miasma theory correctly teaches that disease is a result of poor sanitation, it was based upon the prevailing theory of spontaneous generation. Germ theory developed slowly: despiteAnton van Leeuwenhoek‘s observations of Microorganisms, (which are now known to cause many of the most common infectious diseases) in the year 1680, the modern era of public health did not begin until the 1880s, with Robert Koch‘s germ theory and Louis Pasteur‘s production of artificial vaccines.
Other public health interventions include latrinization, the building of sewers, the regular collection of garbage followed by incineration or disposal in a landfill, providing clean water and draining standing water to prevent the breeding of mosquitos.
In Modern public health As the prevalence of infectious diseases in the developed world decreased through the 20th century, public health began to put more focus on chronic diseases such as cancer and heart disease. An emphasis on physical exercise was reintroduced. vaccination programs and control of infectious diseases, effective safety policies such as motor-vehicle and occupational safety, improved family planning, fluoridation of drinking water, anti-smoking measures, and programs designed to decrease chronic disease malnutrition and poverty, increase of HIV-AIDS and childhood obesity. In modern public health other an Public hygiene, which includes public behaviors individuals can take to improve their personal health and wellness
Tagged with  

TEMUAN TERBARU DAFTAR PEMBALUT DAN PANTYLINER YANG MENGANDUNG ZAT BERBAHAYA!! TOLONG SEBARKAN

Tidak semua pembalut wanita itu aman di gunakan, sebab akhir akhir ini banyak ditemukan jenis pembalut wanita yang berbahaya untuk kesehatan reproduksi,. Seperti yang dilansir dalam situs detikHealth bahwa Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menemukan kandungan klorin pada 9 merek pembalut dan 7 merek pantyliner yang dijual di Indonesia. Bahan tersebut bisa memicu iritasi dan bahkan kanker.




"Dari 9 merek pembalut dan 7 merek pantyliner, semua mengandung klorin dengan rentang 5-55 ppm (part per million)," kata Ilyani S Adang, Anggota Pengurus Harian YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia), ditemui di kantornya, di Duren Tiga Jakarta Selatan, Selasa (7/7/2015).

Pada kategori pembalut, kandungan klorin terbanyak ditemukan pada merek CHARM buatan PT Uni-Charm Indonesia dengan kadar 54,73 ppm. Sedangkan pada kategori pantyliner, kadar tertinggi ditemukan pada merek V Class buatan PT Softex Indonesia yakni 14,68 ppm.

Pada penelitian tersebut, pengambilan sampel dilakukan di sejumlah toko retail dan minimarket. Periode pengambilan sampel adalah Desember 2014 hingga Januari 2015, sedangkan pengujian dilakukan di laboratorium independen yang terakreditasi.

YLKI mengklaim telah mengirimkan temuan ini ke para produsen. Dari surat tanggapan yang masuk, beberapa produsen mengaku tidak tahu karena bahan yang digunakan merupakan bahan impor. Sementara PT Softex Indonesia melakukan uji ulang pada produk Softex Deluxe Maxi Wing dan Softex Ultra Maxi Wing, keduanya memberikan hasil negatif. Sedangkan PT KAO Indonesia yang dihubungi detikHealth belum memberikan tanggapan ketika ditanya tentang temuan YLKI ini.

Tulus Abadi, Ketua Harian YLKI menyebut SNI (Standar Nasional Indonesia) memang tidak mengatur bahwa produk-produk tersebut harus bebas klorin. Oleh karenanya, YLKI mendorong SNI agar segera mengaturnya karena klorin punya dampak negatif bagi kesehatan organ reproduksi perempuan.

Selengkapnya, berikut ini temuan YLKI pada 9 merek pembalut dan 7 merek pantyliner yang dijual di Indonesia.

Pembalut:

1. CHARM, PT Uni Charm Indonesia, klorin 54,73 ppm
2. Nina Anion, PT Panca Talentamas, klorin 39,2 ppm
3. My Lady, PT Sehat Anugerah Perhasa, klorin 24,44 ppm
4. VClass Ultra, PT Softex Indonesia, klorin 17,74 ppm
5. Kotex, PT Kimberly Clark Indonesia, klorin 8,23 ppm
6. Hers Protex, PT Multi Duta Utari, klorin 7,93 ppm
7. LAURIER, PT KAO Indonesia, klorin 7,77 ppm
8. Softex, PT Softex Indonesia, klorin 7,3 ppm
9. Sotness Standard Jumbo Pack, klorin 6,05 ppm

Pantyliner:

1. V Class, PT Softex Indonesia, klorin 14,68 ppm
2. Pure Style, PT Uni Charm Indonesia, klorin 10,22 ppm
3. My Lady, PT Sehat Anugerah Perkasa, klorin 9,76 ppm
4. KOTEX Fresh Liners, PT Kimberly Clark Indonesia, klorin 9,66 ppm
5. Softness Panty Shields, PT Softness Indonesia Indah, klorin 9,00 ppm
6. CareFree superdry, Johnson & Johnson Indonesia, klorin 7,58 ppm
7. LAURIER Active Fit, PT KAO Indonesia, klorin 5,87 ppm(up/vit)


Artikel Kesehatan di Negara Indonesia

ARTIKEL KESEHATAN MASYARAKAT DI INDONESIA

Pada saat ini Kesehatan Masyarakat di Indonesia bisa di katakana dalam kondisi yang sudah semakin membaik, meskipun masih ada sebagian masyarakat yang yang hidup jauh dari pola hidup sehat. Membaiknya kondisi Kesehatan Masyarakat di Indonesia merupakan manifestasi dari info dari media masa yang sering memberikan informasi edukatis sehingga masyarakat terdidik secara otomatis. Pentingnya kesehatan masyarakat membuat dinas pendidikan membuat ilmu atau fakultas yang khusus menangani bidang kesehatan masyarakat. Harapan pemerintah pada perkuliahan yang membahas tentang kesehatan masyarakat untuk kedepannya mampu membawa masyarakat yang sehat dan cerdas dalam menjaga kesehatannya sendiri dan keluarga.

Ilmu tentang kesehatan masyarakat memiliki arti sebagai ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup, meningkatkan kesehatan fisik dan mental, dan efisiensi melalui usaha masyarakat yang terorganisir untuk meningkatkan sanitasi lingkungan, kontrol infeksi di masyarakat, pendidikan individu tentang kebersihan perorangan, pengorganisasian pelayanan medis dan perawatan, untuk diagnosa dini, pencegahan penyakit dan pengembangan aspek sosial, yang akan mendukung agar setiap orang di masyarakat mempunyai standar kehidupan yang kuat untuk menjaga kesehatannya.
Ilmu kesehatan masyarakat mempunyai ruang lingkup yang menjadi sorotan di Indonesia adalah Gizi Masyarakat, pembahasan berkaitan dengan gizi memang menjadi hal menarik, karena masih banyak masyarakat yang dalam pemenuhan gizinya belum mendekati normal, artinya angka kecukupan gizi di masyarakat Indonesia terutama di pedesaan masih sangat rendah. Banyak masyarakat yang masih mengkonsumsi makanan satu macam sehingga nutrisinya tidak optimum, hal ini juga yang menyebabkan banyaknya kasus seperti busung lapar kurang gizi dan lain sebagainya.
Sumber daya manusia yang baik tentu dari kesehatan masyarakat yang baik. Masalah gizi menjadi sorotan khusus karena di Indonesia sendiri masalah ini belum bisa teratasi secara tuntas, sebenarnya banyak aspek yang melingkupi kesehatan masyarakat, seperti Epidemiologi, Biostatistik, Kesehatan Lingkungan, Pendidikan Kesehatan dan Perilaku, Administrasi Kesehatan Masyarakat, Kesehatan dan Keselamatan Kerja serta Kesehatan Reproduksi.
Pentingnya kesehatan masyarakat di Indonesia harus benar-benar mendapatkan perhatian, karena masyarakat bisa menjadi cerminan suatu Negara. Bagaimanapun Negara bisa terus berkembang karena ada masyarakat yang  menyumbangkan Sumber Daya Manusia-nya.

Tugas Makalah Sistem Informasi Kesehatan Puskesmas

TUGAS MATA KULIAH SISTEM INFORMASI KESEHATAN S S-05 TA. 2016-2017
BM ADMINISTRASI DAN KEBIJAKAN KESEHATAN

Judul :
SISTEM INFORMASI KESEHATAN PUSKESMAS


Dosen Pengajar :
1.      Rutler Masalamate, SKM, M.Kes
2.      Dr. Chreisye K.F. Mandagi, MPH
3.      Dr. Ronny Budiman, MKM
Gambar FKM.jpg


Nama-nama Kelompok 3:
1.      Vitha Lontaan             14111101078
2.      Syelin Pontoh             14111101027
3.      Ayuditha Posumah      14111101040
4.      Siti Damapolii             14111101259
5.      Kastik Yeblo               14111101111
6.      Jeanet Sualang            14111101060
7.      Jelily Mentang            14111101291


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2016
KATA PENGANTAR
            Puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa atas berkat-Nya sehingga makalah ini dapat dibuat. Adapun judul makalah ini adalah mengenai “Sistem Informasi Kesehatan Puskesmas”. Pada zaman sekarang Puskesmas berfungsi sebagai usaha preventif (pencegahan) dan operatif (penanggulangan) terhadap upaya-upaya kesehatan masyarakat. Semakin banyak Puskesmas yang dibangun maka sangatlah penting jika pihak Puskesmas berfikiran untuk meningkatkan mutuari Puskesmas tersebut. Dalam makalah ini terdapat beberapa indikator-indikator yang menjadi bahan acuan dalam meningkatkan mutu pelayanan puskesmas. Sebagai sampel pelaksanaan Sistem Informasi Kesehatan kelompok kami menganalisis indikator-indikator apa saja yang dipakai oleh Puskesmas Wonasa.
            Kelompok kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan dan pembuatan makalah ini. Oleh karena itu dibutuhkan kritikan dan saran dari pembaca guna untuk penyempunaan makalah ini. Terima kasih.


                                                                                                Manado,          Oktober 2016


                                                                                                            Kelompok 7   












DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………..i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………….………..ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang ………………………………………………………………………….iii
1.2   Rumusan Masalah ……………………………………………………………………...iii
1.3  Tujuan Penulisan ………………………………………………………………………..iv
1.4  Manfaat Penulisan ………………………………………………………………………iv
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sistem Informasi Kesehatan ………………………………………………1-2
2.2 Ruang Lingkup Sistem Informasi Kesehatan …………………………………………2-7
2.3 Sumber Data Sistem Informasi Puskesmas ……………………………………………7-8
2.4 Pencatatan Dan Pelaporan Kegiatan Sistem Informasi Puskesmas ……………………..8
2.5 Pengembangan Indikator Sistem Informasi Puskesmas …………………………………9
      2.6 Sistem Informasi Kesehatan Puskesmas Wonasa ………………………………………10
      BAB III PENUTUP
      3.1 Kesimpulan …………………………………………………………………………….11
      BAB IV DAFTAR PUSTAKA.…………………………………………………………….12


BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Puskesmas merupakan salah satu instansi yang bergerak dibidang pelayanan jasa kesehatan masyarakat. Pada zaman sekarang telah banyak di bangun Rumah Sakit akan tetapi di daerah pelosok atau desa yang ada masih Puskesmas yang berfungsi sebagai usaha preventif (pencegahan) dan operatif (penanggulangan) terhadap upaya-upaya kesehatan masyarakat. Semakin banyak Rumah Sakit dan Puskesmas yang dibangun maka sangatlah penting jika pihak Puskesmas berfikiran untuk meningkatkan mutuari Puskesmas tersebut. Untuk menunjang peningkatan mutu Badan usaha sosial seperti Puskesmas yang melayani masyarakat di bidang kesehatan, sistem yang terkomputerisasi sangat diperlukan karena pelayanan yang diberikan di Puskesmas juga harus cepat. Misalnya, mengatasi sistem informasi manajemen pada pendaftaran pasien yang selama ini digunakan. Penyelenggaraan upaya pelayanan kesehatan secara paripurna dijabarkan dalam kegiatan-kegiatan pokok di dalam gedung maupun di luar gedung Puskesmas. Kegiatan di dalam gedung Puskesmas meliputi pengobatan, kesehatan ibu dan anak (KIA), Keluarga Berencana (KB), kesehatan gigi dan laboratorium. Sedangkan kegiatan yang dilakukan di luar gedung Puskesmas meliputi pemberantasan penyakit menular, gizi, kesehatan ibu dan anak, imunisasi, penyuluhan kesehatan masyarakat, dan kesehatan usia lanjut. Sebagai tindak lanjut mengembangkan sarana pelayanan pendaftaran pasien di instansi jasa khususnya Puskesmas, perlu diadakan pengolahan sistem informasi manajemen yang memadai. Oleh sebab itu, untuk mengatasi masalah yang ada di Puskesmas  dapat dilakukan dengan cara membuat sistem informasi yang cepat, tepat dan akurat. Sistem informasi tersebut berupa “Sistem Informasi Kesehatan Puskesmas“.

1.2     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian sistem informasi Puskesmas?
2.      Bagaimana ruang lingkup (kajian-kajian) sistem informasi Puskesmas?
3.      Bagaimana sumber data sistem informasi Puskesmas?
4.      Bagaimana pencatatan dan pelaporan kegiatan sistem informasi Puskesmas?
5.      Bagaimana pengembangan indikator sistem informasi Puskesmas?



1.3    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui pengertian sistem informasi Puskesmas.
2.      Untuk mengetahui ruang lingkup (kajian-kajian) sistem informasi Puskesmas
3.      Untuk mengetahui sumber data sistem informasi Puskesmas
4.      Untuk mengetahui pencatatan dan pelaporan kegiatan sistem informasi Puskesmas
5.      Untuk mengetahui pengembangan indikator  sistem informasi Puskesmas

1.4    Manfaat Penulisan
Untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan mengenai Sistem Informasi Kesehatan Puskesmas.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1   Pengertian Sistem Informasi Puskesmas
     Sistem Informasi Kesehatan merupakan  gabungan perangkat dan prosedur yang digunakan untuk mengelola siklus informasi (mulai dari pengumpulan data sampai pemberian umpan balik informasi) untuk mendukung pelaksanaan tindakan tepat dalam perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan kinerja sistem kesehatan. Informasi kesehatan selalu diperlukan dalam pembuatan program kesehatan mulai dari analisis situasi, penentuan prioritas, pembuatan alternatif solusi, pengembangan program, pelaksanaan dan pemantauan hingga proses evaluasi. Puskesmas merupakan salah satu instansi yang bergerak dibidang pelayanan jasa kesehatan masyarakat.
Sistem Informasi Puskesmas (Simpus) yaitu seluruh kegiatan Puskesmas mulai registrasi, tindakan medis/pengobatan, farmasi/apotik,  serta menejemen terhubung menjadi satu dengan sitem real online (up to date). Setiap saat menejemen atau pihak yang berkepentingan dapat memonitor perkembangannya.
            Simpus merupakan sebagian dan kemampuan sistem informasi Menejemen Puskesmas  yang terintegrasi, disamping keuntungan lain seperti:
1.      Pencatatan medical record
2.      Kecepatan pelayanan administrasi
3.      Pembuatan laporan data penyakit  secara cepat dan akurat.
Untuk mengatasi hambatan dalam pelayanan kesehatan dalam Puskesmas keberadaan teknologi informasi merupakan salah satu faktor penunjang untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang ada.
            Perencanaan suatu sistem informasi Puskesmas dilakukan dengan mempertimbangkan dua faktor yakni informasi dan proses, yang berbasis pada struktur manajemen Puskesmas yang bersangkutan. Secara garis besar struktur manajemen Puskesmas dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian struktural dan fungsional. Aktivitas pada bagian struktural lebih berhubungan dengan penanganan aspek administratif dan Puskesmas  yang bersangkutan seperti pembayaran dan perlengkapan, sedangkan aktivitas pada bagian fungsional lebih terfokus pada sisi pelayanan kesehatan pada pasien.
Faktor lain yang tidak kalah penting untuk menjadi dasar pengembangan sistem informasi Puskesmas adalah faktor keamanan, baik keamanan terhadap transmisi data maupun keamanan terhadap isi informasi atau information content. Salah satu bagian yang sangat memfokuskan perhatiannya terhadap masalah keamanan sistem informasi di Puskeswmas  adalah bagian pelayananan di BP. Data-data pada bagian ini berupa terbagi menjadi dua data utama yaitu data hasil pemeriksaan dan data diagnosis, dimana kedua jenis data tersebut menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan privasi pasien.

2.2  Ruang Lingkup (Kajian-Kajian) Sistem Informasi Puskesmas
Adapun tugas pokok dan fungsi masing-masing bagian di Pusat Kesehatan Masyarakat adalah sebagai berikut :
No.
Nama Jabatan
Uraian Tugas
1.
Kepala Puskesmas
1.      Melaksanakan fungsi-fungsi manajemen, bimbingan dan supervisi.
2.      Mengadakan koordinasi di tingkat kecamatan.
3.      Sebagai penggerak pembangunan kesehatan di tingkat kecamatan.
4.      Sebagai tenaga ahli pendamping Camat.
5.      Mengkoordinir dan bertanggung jawab terhadap semua kegiatan di puskesmas
2.
Koordinator Unit Tata Usaha
1.      Merencanakan dan mengevaluasi kegiatan di unit TU
2.      Mengkoordinir dan berperan aktif terhadap kegiatan di unit TU
3.      Menggantikan tugas Kepala Puskesmas bila Kepala
4.      Puskesmas berhalangan hadir
3.
Keuangan
1.      Melakukan perencanaan Keuangan
2.      Merealisasikan Keuangan
3.      Membuat pembukuan/penutupan kas.
4.      Mengambil gaji dan dana operasional serta yang berkaitan dengan kesejahteraan pegawai
5.      Pencatatan dan Pelaporan
6.      Membuat petikan daftar gaji
7.      Menerima setoran dari masing-masing unit pelayanan
8.      Mengkoordinir bendahara-bendahara di Puskesmas
9.      Melakukan setoran perda ke kas daerah
4.
Umum
1.      Rigistrasi Surat Masuk dan Keluar
2.      Melanjutkan disposisi Pimpinan
3.      Membuat konsep surat
4.      Mengkoordinir kegiatan petugas bagian pengiriman semua laporan puskesmas.
5.      Mengkoordinir kegiatan petugas bagian perbaikan sarana puskesmas
6.      Mengarsipkan surat.
7.      Melakukan kegiatan yang bersifat umum.
8.      Mengkoordinir pembuatan spanduk yang bersifat umum
5.
Kepegawaian
1.      Membuat laporan kepegawaian (Absensi, bezzeting, DUK, lap.triwulan, tahunan ,dsb.)
2.      Mengetik DP 3 yang sudah di isi nilai oleh Atasan Langsung
3.      Mendata dan mengarsipkan file pegawai.
4.      Mengusulkan cuti dan kenaikan pangkat
5.      Mengusulkan tunjangan pegawai ( Penyesuaian Fungsional, Baju, Sepatu dan lain-lain)
6.
Data dan Informasi
1.      Sebagai pusat data dan informasi puskesmas.
2.      Mengumpulkan dan mengecek laporan puskesmas sebelum dikirim ke dinas kesehatan
3.      Menyajikan laporan dalam bentuk visualisasi data (tabel, grafik,dll)
4.      Mengidentifikasi masalah program dari hasil visualisasi data dan menyerahkan hasilnya kepada koordinator perencanaan dan penilaian
5.      Bersama-sama team data dan informasi menyusun semua laporan puskesmas (PTP, minilok, Lap. Tahunan, Stratifikasi, dsb.)
6.      Pencatatan dan pelaporan.
7.
Perencanaan dan Evaluasi
1.      Mengkoordinir kegiatan team perencanaan dan penilaian
2.      Menyusun jadwal evaluasi kegiatan puskesmas secara kontinyu
3.      Menyusun laporan hasil evaluasi dan perencanaan untuk selanjutnya diserahkan kepada koord. data & informasi serta koordinasi  program terkait
4.      Mengarsipkan hasil kegiatan
8.
Koordinator UPTF Upaya Kesehatan Masyarakat
1.      Mengkoordinir dan bertanggung jawab dalam penyusunan perencanaan dan evaluasi kegiatan di unit P2M,PROM. KES, KIA/KB, GIZI dan KESLING
2.      Mengkoordinir dan berperan aktif terhadap kegiatan di Unitnya
9.
Koordinator Unit Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2M)
1.      Menyusun perencanaan dan evaluasi kegiatan di unit P2M
2.      Mengkoordinir dan berperan aktif terhadap kegiatan di unitnya.
3.      Ikut secara aktif mencegah dan mengawasi terjadinya peningkatan kasus penyakit menular serta menindak lanjuti terjadinya KLB.
10.
Pemegang ProgramSurveilans
1.      Berperan aktif secara dini melakukan pengamatan terhadap penderita, kesling, perilaku masyarakat dan perubahan kondisi.
2.      Analisis tentang KLB
3.      Penyuluhan kesehatan secara intensif
4.      Pencatatan dan pelaporan
11.
Pemegang ProgramP2 Imunisasi
Bertanggung jawab dan mengkoordinir kegiatan sebagai berikut :
1.      Pelaksanaan Imunisasi Polio, Campak, HB, BCG, DPT pada bayi ditempat pelayanan kesehatan ( Puskesmas, Posyandu dan pustu ).
2.      Pelaksanaan Imunisasi TT pada BUMIL & WUS ditempat pelayanan kesehatan.
3.      Penyuluhan imunisasi dan sweeping ke rumah target yang tidak datang ke tempat pelayanan kesehatan.
12.
Pemegang ProgramP2 Diare
1.      Penyuluhan untuk memasyarakatkan hidup bersih dan sehat serta memasyarakatkan oralit.
2.      Kaporitisasi sumur-sumur dan sumber air sebanyak 2 kali se tahun.
3.      Surveillance yaitu mengurangi dan menghindari kontak untuk mencegah penyebaran kasus.
4.      Pecatatan dan Pelaporan.
5.      Penemuan dan pengobatan penderita diare di dalam maupun di luar gedung.
6.      Aktif dalam penyelidikan KLB/peningkatan kasus
13.
Pemegang ProgramP2 DHF
1.      Penentuan target sasaran, khususnya di desa endemis DHF, Penyuluhan DHF
2.      Pemberantasan vektor melalui PJB dan PSM serta pelaksanaan ULV di wilayah kerja
3.      Penemuan dan pengobatan penderita
4.      Pencatatan dan Pelaporan
5.      Melaksanakan Penyelidikan Epidemiologi DHF
6.      Pemeriksaan larva
7.      Pemantauan/monitoring jumantik desa endemis
8.      Pertemuan berkala jumantik
9.      Rekapitulasi laporan jumantik
14.
Pemegang ProgramP2 TBC
1.      Penyuluhan tentang TBC serta kunjungan dan follow up ke rumah pasien
2.      Pencatatan dan Pelaporan kasus
3.      Penemuan secara dini penderita TBC
4.      Pengobatan penderita secara lengkap
5.      Koordinasi dengan petugas laboratorium terhadap penderita/tersangka TBC untuk mencari BTA +
15.
Pemegang ProgramP2 ISPA
1.      Penyuluhan tentang ISPA
2.      Penemuan secara dini penderita ISPA
3.      Pengobatan penderita secara lengkap
4.      Pencatatan dan Pelaporan kasus
16.
Pemegang Program PMS-AIDS
1.      Penyuluhan tentang PMS dan AIDS
2.      Kerjasama dengan Yayasan peduli AIDS mengenai pendataan penderita PMS dan AIDS.
3.      Penemuan secara dini penderita PMS dan AIDS.
4.      Pengobatan penderita yang menderita maupun yang dicurigai.
17.
Pemegang Program P2 Malaria
1.      Penyuluhan tentang Malaria
2.      Pemberantasan Nyamuk Anopeles.
3.      Kerja sama dengan aparat pemerintahan desa dalam pelaporan pendatang terutama yang berasal dari daerah endemis Malaria.
4.      Penemuan secara dini penderita malaria
5.      Pengobatan penderita yang menderita maupun yang dicurigai.
18.
Pemegang Program P2 Kusta
1.      Penyuluhan tentang Kusta
2.      Penemuan Penderita Kusta dengan pemeriksaan kontak, pemeriksaan anak sekolah dan case survei
3.      Memberikan pengobatan yang tepat sesuai diagnosa dan klasifikasinya.
4.      Melakukan pencegahan cacad dengan mengawasi dan mengevaluasi pengobatan
5.      Pencatatan dan Pelaporan
19.
Pemegang Program P2 Rabies
1.      Pencatatan pasien yang digigit HPR ( Hewan Penular Rabies)
2.      Pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) bagi pasien digigit anjing
3.      Pengamprahan dan pencatatan pemakaian VAR
4.      Pembuatan laporan pasien dan vaksin
20.
Pemegang ProgramPromosi Kesehatan
1.      Mengkoordinir dan bertanggung jawab terhadap semua kegiatan promosi kesehatan di wilayah kerja puskesmas.
2.      Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan promosi dilakukan bersama-sama dengan coordinator program yang terkait.
3.      Kegiatan dalam Gedung
A.    Penyuluhan langsung kepada perorangan maupun kelompok penderita di Puskesmas / Pustu
B.     Penyuluhan tidak langsung melalui Media Poster / Pamflet
4.      Kegiatan di luar Gedung
A.    Penyuluhan melalui media masa, pemutaran Film, siaran keliling maupun media tradisional.
B.     Penyuluhan kelompok melalui posyandu dan sekolah.
5.      Koordinator pelaksanaan PHBS
6.      Koordinator pelaksanaan Bali Sehat
7.      Pencatatan dan pelaporan
21.
Pemegang Program JPKMM
1.      Pendataan KK dan anggota Gakin
2.      Penyusunan perencanaan dana operasional JPKMM
3.      Pencatatan operasional dana JPKMM
4.      Pelayanan kesehatan untuk anggota JPKMM
5.      Penyuluhan tentang prosedur dan tata laksana pemanfaatan kartu GAKIN
6.      Pencatatan dan Pelaporan
22.
Koordinator Unit KIA,KB, Gizi
1.      Menyusun perencanaan dan evaluasi kegiatan di unit KIA,KB, Gizi, Kes. Anak, Kes Remaja
2.      Mengkoordinir dan berperan aktif terhadap kegiatan di unitnya.
3.      Ikut secara aktif mencegah dan mengawasi terjadinya masalah dan memecahkan masalah yang ada di unitnya.

2.3  Sumber Data Sistem Informasi Puskesmas
Sumber data adalah bukti nyata yang menggambarkan kondisi atau fakta yang sebenarnya di lapangan atau di masyarakat. Informasi adalah hasil dari pengolahan data dalam bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan suatu kejadian sehingga akan berguna untuk pengambilan keputusan. Data dapat dikumpulkan dengan berbagai macam cara, yaitu:
1.      metode rutin
2.      metode non-rutin.
Pengumpulan data secara rutin dilakukan untuk data yang berasal dari fasilitas kesehatan. Data ini dikumpulkan atas dasar catatan atau rekam medik pasien/klien baik yang berkunjung ke fasilitas pelayanan kesehatan maupun yang dilayani di luar gedung fasilitas pelayanan kesehatan. Pengumpulan data secara rutin umumnya dilakukan oleh petugas kesehatan. Akan tetapi pengumpulan data secara rutin juga dapat dilakukan oleh masyarakat (kader kesehatan). Bentuk lain dari pengumpulan data secara rutin adalah registrasi vital. Adapun pengumpulan data secara non-rutin umumnya dilakukan melalui survei, sensus, evaluasi cepat (kuantitatif atau kualitatif), dan studi-studi khusus/penelitian.

2.4 Pencatatan Dan Pelaporan Kegiatan Sistem Informasi Puskesmas
            Kegiatan-kegiatan pokok Pusskesmas yang diselenggarakan oleh puskesmas sejak berdirinya semakin berkembang. Usaha pokok kesehatan yang dapat dilaksanakan oleh puskesmas sesuai dengan kemampuan yang ada dari tiap-tiap puskesmas baik dari segi tenaga, fasilitas biaya/ anggaran yang tersedia. Oleh karena itu pemerintah dewasa ini menetapkan pokok-pokok usaha kesehatan puskesmas yang terdiri dari:
1.       Upaya kesehatan ibu dan anak
2.       Upaya keluarga berencana
3.       Upaya peningkatan gizi
4.       Upaya kesehatan lingkungan
5.       Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
6.       Upaya penyuluhan kesehatan
7.       Upaya kesehatan sekolah
8.       Upaya kesehatan olah raga
9.       Upaya kesehatan masyarakat
10.    Upaya kesehatan kerja
11.   Upaya kesehatan gigi dan mulut
12.   Upaya kesehatan jiwa
13.   Upaya kesehatan mata.
14.   Upaya laboratorium kesehatan
15.   Upaya pencatatan dan pelaporan dalam rangka sistem informasi kesehatan.




2.5 Pengembangan Indikator Sistem Informasi Puskesmas
Strategi pengembangan Puskesmas yang dilaksanakan, dimaksudkan untuk memberikan wadah bagi Puskesmas untuk mengembangkan diri sesuai potensi masing-masing yang tujuannya adalah peningkatan mutu layanan secara komprehensif (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip strategi pengembangan Puskesmas.
Indikator kinerja puskesmas
1.      Kondisi bangunan Puskesmas
2.      Ketersediaan listrik 24 jam
3.      Alat kesehatan sesuai standar
4.      Kecukupan sarana komunikasi
5.      Pelaksanaan perencanaan
6.      Pelaksanaan Upaya Kesehatan Pilihan
7.      Pertemuan berkala lintas sektor
8.      Persentase Penduduk miskin ditangani
9.      Cakupan Desa siaga aktif
10.  Ketersediaan dan kecukupan air bersih
11.  Kecukupan tenaga kesehatan
12.  Ketersediaan obat sesuai standar
13.  Ketersediaan sarana Transportasi
14.  Kecukupan dana operasional
15.  Pelaksanaan upaya kesehatan wajib
16.  Rujukan medis dan kesmas
17.  Pelaksaan diskusi kasus(audit kasus)
18.  Presentase penduduk ditangani
19.  Presentase kemandirian posyandu


2.6 Sistem Informasi Kesehatan Puskesmas Wonasa
Sistem Informasi Kesehatan yang dilaksanakan Puskesmas Wonasa mengacu pada strategi pengembangan atau indikator-indikator pelaksanaan pelayaan Puskesmas yang secara luas memberikan wadah bagi Puskesmas Wonasa untuk mengembangkan diri sesuai potensi masing-masing yang tujuannya adalah peningkatan mutu layanan secara komprehensif di bidang promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Program-program unggulan yang dijalankan oleh Puskes Wonasa adalah :
1.      Upaya kesehatan ibu dan anak
2.      Upaya keluarga berencana
3.      Upaya peningkatan gizi
4.      Upaya kesehatan lingkungan
5.      Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
6.      Upaya penyuluhan kesehatan
7.      Upaya pencatatan dan pelaporan dalam rangka sistem informasi kesehatan

Alur pelayanan kesehatan yang di terapkan Puskesmas Wonasa yaitu mulai dari pelayanan utama di loket pendaftaran, kemudian pasien diarahakan sesuai dengan keluhan mereka masing-masing terhadap penyakit kemudian menuju ke bagian-bagian pelayanan kesehatan yang telah disediakan Puskesmas. Baik itu pelayanan kesehatan ibu dan anak, pelayanan masalah kesehatan gizi, pelayanan keluarga berencana dan sebagainya. Dengan pembagian pelayanan kesehatan ini, akan mempermudah para pelaksana layanan kesehatan untuk melakukan pelayanan kesehatan terhadap pasien.
Kasus penyakit-penyakit yang sering di dapati oleh puskesmas Wonasa ialah sebagai berikut:
1.      Commond cold atau selesma (iritasi hidung) adalah penyakit infeksi catarrhal dari saluran pernapasan bagian atas yang disebabkan oleh virus selesma yang terjadi pada anak-anak yang berusia lebih dari 3 tahun dan jarang pada orang dewasa.
2.      Essential (primary) hypertension atau tekanan darah tinggi.
3.      Cough atau batuk
4.      Dermatitis unspecified atau penyakit kulit yang memiliki banyak penyebab dan terjadi dalam berbagai bentuk
5.      Acute upper respiratory atau (ISPA) infeksi saluran pernafasan akut.

Untuk system pelaporan selanjutnya Puskesmas Wonasa masih menggunakan system manual yaitu masih menggunakan pencatatan di buku terhadap berbagai kegiatan puskesmas dan penyakit-penyakit yang di dapati kemudian melaporkan hasil Informasi Kesehatan ke Dinas Kesehatan setiap bulan.

DAFTAR PUSTAKA